Idul Fitri Yang Tidak Biasa Bagi Presiden Indonesia

Idul Fitri Yang Tidak Biasa Bagi Presiden Indonesia

Idul Fitri Yang Tidak Biasa Bagi Presiden Indonesia – Idul Fitri yang sedang berlangsung kala ini seharusnya menjadi moment yang paling ditunggu dalam setiap tahunnya.

Idul Fitri Yang Tidak Biasa Bagi Presiden Indonesia

Dimana hal ini menjadi momen sakral untuk bisa saling bermaafan satu dengan yang lainnya. Secara khusus di Indonesia sendiri hingga kini setidaknya memiliki populasi sebanyak 270 juta jiwa dan mayoritas masyarakatnya beragama muslim.

Tepat pada tanggal 24 mei 2020 harus nya menjadi momen bahagia yang dikenal oleh orang Indonesia sebagai lebaran. Selain itu lebaran ini juga dianggap sebagai hari kemenangan setelah 1 bulan lamanya menjalankan ibadah puasa.

Tentunya mendekati waktu lebaran tiba, akan banyak terjadi lonjakan baik itu kenaikan bahan pokok, membeli baju baru serta angkutan umum yang kerap digunakan dalam perjalanan mudik.

Namun untuk pertama kali nya lebaran tahun ini akan sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Dimana virus corona atau yang kita kenal juga dengan covid-19 mewabah di seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Karena mudik serta keramaian dianggap sangat ampuh dalam mempercepat penyebaran virus, maka pemerintah Indonesia sendiri memberlakukan PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) dimana jalur mudik baik itu jalan tol, pelabuhan, bandara, bus angkutan darat dan pusat perbelanjaan harus ditutup untuk sementara. Pemerintah sendiri berharap dengan cara ini bisa menekan angka kasus positif covid-19.

Virus ini sendiri pertama kali ditemukan di China pada akhir tahun 2019 lalu, dan di Indonesia khususnya mulai masuk pada tanggal 2 maret 2020 dengan kasus pertama sebanyak 2 pasien.

Dari sinilah jumlah yang tertular terus bertambah setiap harinya. Setidaknya tercatat ada lebih dari 22 ribu kasus positif dan 1000 lebih kasus yang dinyatakan meninggal dunia.

Dari hal tersebut tentunya virus ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Maraknya peringatan yang gencar dilakukan, jelas tak membuat banyak orang Indonesia sadar akan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini.

PSBB yang dijalankan pun perlahan mulai dilupakan dan hanya menjadi peraturan tertulis yang tidak berarti. Masih banyak masyarakat yang nekat untuk melakukan perjalanan mudik tanpa memikirkan diri sendiri hingga orang lain.

Jelas dari banyaknya masyarakat yang tidak patuh, membuat lonjakan kasus positif di Indonesia terus bertambah sangat banyak setiap harinya. Dalam sehari saja pasien positif yang terinfeksi virus ini bisa mencapai hingga 1000 orang.

Tentunya dengan angka yang sebanyak ini, membuat Indonesia menempati urutan pertama di Asia timur untuk kasus kematian terbanyak.

Sebagai orang nomor 1 di Indonesia yakni Presiden Joko Widodo mendapat tekanan tersendiri bukan hanya mengenai virus saja tetapi juga terhadap kepatuhan masyarakat Indonesia sendiri.

Setelah diberlakukan PSBB, Jokowi juga menghimbau untuk menutup semua jalur mudik baik itu dari darat, laut dan juga udara mulai pada tanggal 21 april yang lalu.

Dan kemudian akan dilakukan secara bertahap dan puncaknya pada tanggal 24-25 mei semua arus akan ditutup total hingga pada tanggal 2 juni 2020.

Tapi semenjak aturan tersebut diumumkan, tepat 1 hari sebelumnya orang-orang berbondong-bondong untuk keluar dari Jakarta (ibukota Indonesia) baik menggunakan pesawat, bus, kendaraan pribadi, atau juga kapal laut.

Bahkan ketika lebaran tiba, banyak sekali yang melanggar aturan ini dimana, banyak bus yang kembali beroperasi dan kembali bandara juga ramai dipadati para pemudik yang ingin pulang ke kampung halamannya.

Menggunakan berbagai cara, mereka yang ingin mudik rela untuk bersembunyi agar tidak ditangkap oleh pihak berwajib untuk dilakukan pemaksaan pulang kembali. Melihat hal ini pemerintah juga tak tinggal diam dan memilih untuk menjemput paksa mereka yang berhasil lolos di kampung halamannya masing-masing untuk dilakukan karantina selama 14 hari.

Dari kasus ini pemerintah sendiri akan ragu bagaimana lagi harus menghadapi pandemi ini. Melihat dari masyarakatnya yang masih banyak berpenghasilan dibawah rata-rata, membuat Jokowi tidak menerapkan sistem Lockdown dan lebih memilih untuk melakukan PSBB saja.

Pandemi ini juga menyebabkan banyak orang harus kehilangan pekerjaan mereka karena banyak perusahaan yang harus tutup karena hal ini.

Anjuran untuk tetap dirumah dan bekerja dari rumah juga terus dikumandangkan oleh banyak pihak. Apalagi sekarang orang yang sehat saja bisa terkena virus ini dengan sebutan Orang Tanpa Gejala (OTG).

Pemerintah sendiri telah melakukan banyak cara seperti memberikan bantuan sosial, baik berupa uang tunai, sembako dan masih banyak lagi.

Tentunya virus ini bukan hanya berdampak bagi kesehatan saja, namun juga merambat ke faktor lain seperti ekonomi.

Diketahui semakin hari, pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin melemah. Banyak masyarakat yang mengeluh karena tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebelum Idul Fitri.

Beberapa dari mereka juga harus menjual aset yang dipunyai bahkan juga ada yang melakukan pinjaman.

Insentif yang diberikan oleh pemerintah juga dinilai sangat tidak membantu untuk dapat menutup kekurangan kebutuhan pokok masyarakat.

Tentunya pemerintah Indonesia sendiri harus berbenah dimana yang salah. Karena jika hal ini terus dibiarkan, bukan hanya kesehatan saja yang bisa terancam, namun negara sendiri bisa menghadapi krisis berkepanjangan atau bahkan yang parah adalah terjadinya resesi.

Banyak masyarakat yang tidak peduli akan kesehatan membuat tagar #Indonesiaterserah menjadi viral di sosial media baik di instagram, facebook atau juga twitter tentang Idul Fitri.

Terjadi begitu banyak silang pendapat, hingga kekerasan ketika ada yang pro dan kontra untuk aturan tetap dirumah Game Mahyong.

Sebagai seorang petinggi negara, Jokowi juga turut menyampaikan hari raya lebaran dan tetap meminta kepada seluruh masyarakat agar dapat mematuhi aturan yang ada untuk kepentingan bersama.